Selasa, 06 November 2012
TEKA-TEKI
MENURUN :
MENDATAR :
1. SYAJUR
1. SUKU
2. KALIMAT
3. RAGAM
3. RESMI
6. LINGUIS
4. MELAYU
7. MAKNA
5. SUBJEK
8. UGMU
10. EJAAN
9. OPHUIJSEN
13. FAKTA
11. TITIK
14. ALIBI
15. TITIKKOMA
15.TANYA
17. INDONESIA
16. KOMA
19. KAMI
20. AKU
Kamis, 31 Mei 2012
Steve Paul Jobs
Lahir di San Francisco pada tanggal
24 Februari 1955 dari keluarga Ibu berkebangsaan Amerika Serikat dan Ayah
seorang ilmuan politik dari Syria. Dan lalu ia di adopsi oleh Paul dan Clara jobs, yang di berinama Steven
Paul Jobs atau yang sering kita kenal dengan sebutan Steve Jobs. Yang mengakhiri masa hibupnya karena penyakit kangker
yang di deritanya pada 5 Oktober 2011.
Pada tahun
2004 lalu Steve Jobs melakukan oprasi pengangkatan tumor. Sejak itu banyak yang
bersekulasi dengan kondisi kesehatannya. Dan pada tahun 2008 Steve Jobs menampik sebuah berita
yang beredar luas mengenai kematiannya.”Berita mengenai kematian saya sangat
keterlaluan,” ujar Steve Jobs.
Kematian merupakan akhir dari
kehudupan dan kematian juga mengistirahatkan yang tua lalu membuka jalan bagi
yang baru. Kalimat ini muncul setelah meninggalnya Steve Jobs. Namun, kalimat
tersebut muncul dari kata-kata Steve Jobs sendiri saat ia menyampaikan pidato
di depan mahasiswa Standford pada tahun 2005. Pidato tersebut adalah pidato
pertama setelah kepulihannya dari penyakit kangker yang di deritanya.
Siapa sangka orang yang pernah di drop out dari studinya yang hanya sampai semester
pertama di Reed College pada tahun 1972 tersebut telah menjadi seorang Visioner terbesar. Steve Jobs bukanlah
seorang pencipta yang di beriakan oleh kebanyakan media. Meskipun Steve Jobs
adalah seorang penemu yang jenius dan memiliki insting untuk menilai sebuah ide
baik atau buruk.
Dengan insting inilah Steve Jobs
menemukan sebuah momen pencerahan dengan pertemuannya bersama Xerox Alto, ia
membuat milestone besar pada tahun
1979 yang telah di kerjakannya selama kurang- lebih 23 tahun itu. Pada saat
itu, komponen-komponen yang terdapat di dalamnya bukanlah hal yang biasa. Seperti
mouse dan graphical user interface. Selain itu terdapat juga window pada layar
dengan file dan folder yang terlihat jelas. Dan tentu saja sangat membantu
setiap orang untuk memahami komputer ini bekerja. Kurang puas dengan
penemuannya tersebut Steve Jobs menginteraksikan pada Macintosh dan prangkat
lisa yang terbilang tidak murah tersebut.
Steve Jobs selalu memberikan
ciri-ciri yang sama pada produk-produk yang di buatnya. Pada tahun 2001 musik
player iPod mulai di perkenalkan yang menawarkan akses ke ribuan judul
lagu dengan 3 kali klik. Tuch Interface
pada iPhone dengan icon program yang terorganisir berdasarkan ranking dan
file.ini lah yang membuat ia mengeluarkan jutaan US$ untuk sebuah
pengembangannya dan itulah yang menjadi awal kesuksean Apple pada saat itu.
Tidak ada satu pun orang yang dapat
mengubah dunia secara mendasar kecuali Steve Jobs. Apa yang menjadi rahasia
Apple dalam meraih sebuah kesuksesan, di ungkapkan Steve Jobs setelah iPods diluncurkan, dan jika ada yang bertanya "mengapa harus Aplle?" saya akan menujukan iPods. ujar Steve Jobs
sumber : Majalah Chips
Senin, 07 Mei 2012
cyber, mengancam gadget terbaru
Jakarta – Selain kehadiran teknologi baru, tahun 2012 juga dinilai akan banyak muncul kejahatan cyber. Yuk, tengok prediksi apa saja ancamannya. Dimulai dari ranah mobile, siapa yang akan menjadi sasaran tembak favorit di antara Android, iOS, Symbian, BlackBerry, dan Windows Mobile?
Menurut perusahaan keamanan Eset, apa yang akan terjadi di 2012 tidak akan terlepas dari rangkaian kejadian dan kecenderungan di 2011 lalu. Secara umum, penyebaran malware di 2012, eskalasinya dipicu juga dari faktor pengguna yang akan memberikan kontribusi terhadap penyebaran threats.
Pertumbuhan tingkat penggunaan perangkat bergerak khususnya perangkat komunikasi atau smartphone akan semakin signifikan di tahun 2012 sehingga semakin membuka peluang tidak hanya terbatas bagi malicious code.
“Pada konteks ini, segala bentuk ancaman, ditambahmalicious code hasil pengembangan baru yang menyasar perangkat komunikasi mobile diperkirakan akan meningkat secara signifikan dan menjadi masalah bagi pengguna,” Eset memaparkan.
Indonesia sendiri dengan karakteristik pasar yang unik terhadap smartphone — menurut data yang dimiliki Eset — selama tahun 2011 telah mampu menyerap 107.740 juta unit smartphone dari berbagai OS.
Posisi teratas adalah Android OS yang mencapai 46.775 juta unit atau 43,4%, disusul Symbian dengan 23.853 (22,1%) dan iOS dengan 19.628 juta unit (18,2%). Dari angka tersebut, bisa dibayangkan penyebaran OS Android di Indonesia.
Kemampuannya terkoneksi dengan internet, bahkan bisa menjadi basis situs e-commerce, sekaligus sebagai tempat penyimpanan data membuatnya menjadi primadona perangkat elektronik.
“Pada saat yang sama perangkat tersebut (Android-red.) juga menjadi sasaran empuk bagi para hacker yang memburu data dan informasi. Para hacker bekerja keras untuk mengembangkan malware hingga berkembang menjadi serangkaian panjang varian yang menyerang Android OS,” kata Eset, mewanti-wanti.
Perhatikan gambar di bawah ini yang menunjukkan perjalanan dan perkembangan varian malware yang menyerang Android selama 16 bulan terakhir dan akan berlanjut di tahun 2012.
Perlu dicatat, bahwa timeline tersebut dimulai pada Agustus 2010 ketika awal kemunculan malware yang berhasil dideteksi oleh Eset ThreatSense dan diidentifikasi sebagai FakePlayer.
FakePlayer adalah trojan pertama yang menyerang Android dan serangannya terus berlanjut hingga memasuki Oktober 2011. Jika diperhatikan, 65% dari seluruh threat tersebut terkonsentrasi di lima bulan terakhir. “Sehingga kita bisa gunakan kondisi tersebut sebagai peringatan bagi kita untuk lebih berhati-hati di tahun 2012,” lanjutnya.
Dari temuan tersebut, Eset mencoba mengungkap beberapa indikasi:
- Threat yang akan terdownload di Android Market akan mengalami peningkatan sebesar 30%.
- Dari proporsi tersebut 37% di antaranya adalah SMS Trojan.
- 60% malicious code yang beredar memiliki sifat Botnet — operasionalnya dilakukan dengan perangkat remote.
Faktor lain pemicu meluasnya penyebaran malware pada smartphone adalah karena tidak semua smartphone memiliki fitur atau mampu melakukan patches dan update otomatis.
“Kombinasi kelemahan pada aspek teknis, dan non teknis dalam hal ini perilaku penggunaan, menjadikan komunikasi mobile sebagai sasaran empuk,” Eset menandaskan.
Senin, 07 November 2011
KONFLIK ORGANISASI
Dalam blog saya seblumnya telah
membahas tentang organisasi, dalam
sebuah organisai tuntu tidaklah selalu berjalan baik-baik saja, pastilah ada
konflik yang mudah di selesaikan ataupun yang sangat sulit di selesaikan.
Dalam memecahan sebuah konflik kita
tentu harus mengenal dahulu seperti apa masalah yang menimbulkan seperti itu. Berikut
ini saya akan menjelaskan jenis-jenis konflik dan cara pemecahannya.
Jenis-jenis Konflik.
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflik yaitu konflik intrapersonal, konflik interpersonal, konflik antar individu dan kelompok, konflik antar kelompok dan konflik antar organisasi.
Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi
bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus. Sebagaimana diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal sebagai berikut:
1. Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang bersaing
2. Beraneka macam cara yang berbeda yang mendorong peranan-peranan dan kebutuhan kebutuhan itu terlahirkan.
3. Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi di antara dorongan dan tujuan.
4. Terdapatnya baik aspek yang positif maupun negatif yang menghalangi tujuan-tujuan yang diinginkan.
Hal-hal di atas dalam proses adaptasi seseorang terhadap lingkungannya acapkali menimbulkan konflik. Kalau konflik dibiarkan maka akan menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan. Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal yaitu :
1. Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menarik.
2. Konflik pendekatan – penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama menyulitkan.
3. Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.
• Konflik Interpersonal
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi. Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut.
• Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok
Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas kelompok dimana ia berada.
• Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasi-organisasi. Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja – manajemen merupakan dua macam bidang konflik antar kelompok.
• Konflik antara organisasi
Contoh seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan persaingan.Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan
adanya konflik dalam suatu organisasi antara lain adalah :
1. Berbagai sumber daya yang langka
Karena sumber daya yang dimiliki organisasi terbatas / langka maka perlu dialokasikan. Dalam alokasi sumber daya tersebut suatu kelompok mungkin menerima kurang dari kelompok yang lain. Hal ini dapat menjadi sumber konflik.
2. Perbedaan dalam tujuan
Dalam suatu organisasi biasanya terdiri dari atas berbagai macam bagian yang bisa mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Perbedaan tujuan dari berbagai bagian ini kalau kurang adanya koordinasi dapat menimbulkan adanya konflik. Sebagai contoh : bagian penjualan mungkin ingin meningkatkan valume penjualan dengan memberikan persyaratan-persyaratan pembelian yang lunak, seperti kredit dengan bunga rendah, jangka waktu yang lebih lama, seleksi calon pembeli yang tidak terlalu ketat dan sebagainya. Upaya yang dilakukan oleh bagian penjualan semacam ini mungkin akan mengakibatkan peningkatan jumlah piutang dalam tingkat yang cukup tinggi. Apabila hal ini dipandang dari sudut keuangan, mungkin tidak dikehendaki karena akan memerlukan tambahan dana yang cukup besar.
3. Saling ketergantungan dalam menjalankan pekerjaan
Organisasi merupakan gabungan dari berbagai bagian yang saling berinteraksi. Akibatnya kegiatan satu pihak mungkin dapat merugikan pihak lain. Dan ini merupakan sumber konflik pula. Sebagai contoh : bagian akademik telah membuat jadwal ujian beserta pengawanya, setapi bagian tata usaha terlambat menyampaikan surat pemberitahuan kepada para pengawas dan penguji sehingga mengakibatkan terganggunya pelaksanaan ujian.
4. Perbedaan dalam nilai atau persepsi
Perbedaan dalam tujuan biasanya dibarengi dengan perbedaan dalam sikap, nilai dan persepsi yang bisa mengarah ke timbulnya konflik. Sebagai contoh : seorang pimpinan muda mungkin merasa tidak senang sewaktu diberi tugas-tugas rutin karena dianggap kurang menantang kreativitasnya untuk berkembang, sementara pimpinan yang lebih senior merasa bahwa tugas-tugas rutin tersebut merupakan bagian dari pelatihan.
5. Sebab-sebab lain
Selain sebab-sebab di atas, sebab-sebab lain yang mungkin dapat menimbulkan konflik dalam organisasi misalnya gaya seseorang dalam bekerja, ketidak jelasan organisasi dan masalah-masalah komunikasi.
1. Berbagai sumber daya yang langka
Karena sumber daya yang dimiliki organisasi terbatas / langka maka perlu dialokasikan. Dalam alokasi sumber daya tersebut suatu kelompok mungkin menerima kurang dari kelompok yang lain. Hal ini dapat menjadi sumber konflik.
2. Perbedaan dalam tujuan
Dalam suatu organisasi biasanya terdiri dari atas berbagai macam bagian yang bisa mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Perbedaan tujuan dari berbagai bagian ini kalau kurang adanya koordinasi dapat menimbulkan adanya konflik. Sebagai contoh : bagian penjualan mungkin ingin meningkatkan valume penjualan dengan memberikan persyaratan-persyaratan pembelian yang lunak, seperti kredit dengan bunga rendah, jangka waktu yang lebih lama, seleksi calon pembeli yang tidak terlalu ketat dan sebagainya. Upaya yang dilakukan oleh bagian penjualan semacam ini mungkin akan mengakibatkan peningkatan jumlah piutang dalam tingkat yang cukup tinggi. Apabila hal ini dipandang dari sudut keuangan, mungkin tidak dikehendaki karena akan memerlukan tambahan dana yang cukup besar.
3. Saling ketergantungan dalam menjalankan pekerjaan
Organisasi merupakan gabungan dari berbagai bagian yang saling berinteraksi. Akibatnya kegiatan satu pihak mungkin dapat merugikan pihak lain. Dan ini merupakan sumber konflik pula. Sebagai contoh : bagian akademik telah membuat jadwal ujian beserta pengawanya, setapi bagian tata usaha terlambat menyampaikan surat pemberitahuan kepada para pengawas dan penguji sehingga mengakibatkan terganggunya pelaksanaan ujian.
4. Perbedaan dalam nilai atau persepsi
Perbedaan dalam tujuan biasanya dibarengi dengan perbedaan dalam sikap, nilai dan persepsi yang bisa mengarah ke timbulnya konflik. Sebagai contoh : seorang pimpinan muda mungkin merasa tidak senang sewaktu diberi tugas-tugas rutin karena dianggap kurang menantang kreativitasnya untuk berkembang, sementara pimpinan yang lebih senior merasa bahwa tugas-tugas rutin tersebut merupakan bagian dari pelatihan.
5. Sebab-sebab lain
Selain sebab-sebab di atas, sebab-sebab lain yang mungkin dapat menimbulkan konflik dalam organisasi misalnya gaya seseorang dalam bekerja, ketidak jelasan organisasi dan masalah-masalah komunikasi.
B. Pemicu konflik
Hanya ada dua posisi seseorang dalam sebuah organisasi, yakni dipimpin dan memimpin. Baik organisasi berskala mikro (contohnya Yayasan, LSM, Industri Kecil dan Menengah, dan organisasi kampus) maupun organisasi berskala makro (contohnya perusahaan-perusahaan besar misalnya Astra, IBM, Wall-mart), tidak bisa terlepas begitu saja dengan pola sistematik yang ada di organisasi. Begitu juga halnya dalam Islam. Seorang ulama adalah pemimpin muslim lainnya dalam koridor Islam sebagai organisasinya. Organisasi adalah sebuah sistem yang berfungsi sebagai wadah interaksi antar manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Seorang pemimpin merupakan tonggak ujung yang akan mengarahkan agar tujuan organisasi tercapai. Pemimpin mempunyai power yang tidak dimiliki oleh orang yang dipimpin. Power tidak dapat tumbuh begitu saja. Power merupakan kekuatan untuk mengelola dan mengatur organisasi. Beberapa ahli berpendapat bahwa kemampuan seseorang dalam memimpin adalah sebuah kemampuan alami secara genetik, yang tidak bisa diajarkan. Akan tetapi tidak semua orang berpandangan sama. Kemampuan seseorang untuk menjadi pemimpin dapat dipelajari baik di lingkungan pendidikan maupun terjun langsung di lapangan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemimpin memegang peranan penting dalam sebuah organisasi. Sebagai contoh, dalam kasus pemilu negara kita tahun 2009, banyak partai baru bermunculan. Image orang terhadap partai baru, salah satunya tercermin dari siapa pemimpinnya. Orang awam akan langsung bertanya, ”Siapa sih pemimpin partainya?”. Karena dari situlah dapat ditebak seperti apa gambaran organisasi tersebut. Segala atribut yang menempel di pemimpin, seperti umur, jabatan dan bahkan suku bangsa dapat digeneralisir menjadi atribut organisasi yang dipimpinnya. Terlepas dari semua hal itu, sebenarnya ada hal yang lebih pokok dari atribut-atribut tersebut. Karena pada hakekatnya, secara tidak langsung seorang pemimpin organisasi akan membawa visi pribadinya menjadi bagian dari visi organisasi. Alangkah naifnya jika ternyata seorang pemimpin baru yang ditunjuk, mempunyai visi pribadi yang kurang sinergi dengan visi organisasi dan secara perlahan-lahan mengotori visi organisasi. Hal ini bukan hal yang baru di dalam sebuah organisasi. Sudah banyak contohnya di kehidupan politik bangsa ini. Konflik internal di beberapa partai politik merupakan dampak dari permasalahan itu. Kepemimpinan dalam sebuah organisasi sangat erat kaitannya dengan visi organisasi. Seorang pemimpin akan menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai visi organisasi. Akan tetapi ada hal lain yang bisa digunakan dalam menjalankan kepemimpinan, yakni pengalaman. Pemimpin besar bagi umat muslim yang patut dijadikan panutan dalam semua aspek kehidupan adalah Baginda Rasulullah SAW.
Hanya ada dua posisi seseorang dalam sebuah organisasi, yakni dipimpin dan memimpin. Baik organisasi berskala mikro (contohnya Yayasan, LSM, Industri Kecil dan Menengah, dan organisasi kampus) maupun organisasi berskala makro (contohnya perusahaan-perusahaan besar misalnya Astra, IBM, Wall-mart), tidak bisa terlepas begitu saja dengan pola sistematik yang ada di organisasi. Begitu juga halnya dalam Islam. Seorang ulama adalah pemimpin muslim lainnya dalam koridor Islam sebagai organisasinya. Organisasi adalah sebuah sistem yang berfungsi sebagai wadah interaksi antar manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Seorang pemimpin merupakan tonggak ujung yang akan mengarahkan agar tujuan organisasi tercapai. Pemimpin mempunyai power yang tidak dimiliki oleh orang yang dipimpin. Power tidak dapat tumbuh begitu saja. Power merupakan kekuatan untuk mengelola dan mengatur organisasi. Beberapa ahli berpendapat bahwa kemampuan seseorang dalam memimpin adalah sebuah kemampuan alami secara genetik, yang tidak bisa diajarkan. Akan tetapi tidak semua orang berpandangan sama. Kemampuan seseorang untuk menjadi pemimpin dapat dipelajari baik di lingkungan pendidikan maupun terjun langsung di lapangan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemimpin memegang peranan penting dalam sebuah organisasi. Sebagai contoh, dalam kasus pemilu negara kita tahun 2009, banyak partai baru bermunculan. Image orang terhadap partai baru, salah satunya tercermin dari siapa pemimpinnya. Orang awam akan langsung bertanya, ”Siapa sih pemimpin partainya?”. Karena dari situlah dapat ditebak seperti apa gambaran organisasi tersebut. Segala atribut yang menempel di pemimpin, seperti umur, jabatan dan bahkan suku bangsa dapat digeneralisir menjadi atribut organisasi yang dipimpinnya. Terlepas dari semua hal itu, sebenarnya ada hal yang lebih pokok dari atribut-atribut tersebut. Karena pada hakekatnya, secara tidak langsung seorang pemimpin organisasi akan membawa visi pribadinya menjadi bagian dari visi organisasi. Alangkah naifnya jika ternyata seorang pemimpin baru yang ditunjuk, mempunyai visi pribadi yang kurang sinergi dengan visi organisasi dan secara perlahan-lahan mengotori visi organisasi. Hal ini bukan hal yang baru di dalam sebuah organisasi. Sudah banyak contohnya di kehidupan politik bangsa ini. Konflik internal di beberapa partai politik merupakan dampak dari permasalahan itu. Kepemimpinan dalam sebuah organisasi sangat erat kaitannya dengan visi organisasi. Seorang pemimpin akan menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai visi organisasi. Akan tetapi ada hal lain yang bisa digunakan dalam menjalankan kepemimpinan, yakni pengalaman. Pemimpin besar bagi umat muslim yang patut dijadikan panutan dalam semua aspek kehidupan adalah Baginda Rasulullah SAW.
Proses
seseorang dalam menjalankan kepemimpinanya di organisasi tidak akan berjalan
dengan linier. Rumus matematik saja sejatinya belum cukup untuk memodelkan pola
kepemimpinan dan daur hidup organisasi. Banyak permasalahan-permasalahan
internal yang oleh sebagian besar organisasi tidak dapat diungkapkan sebagai
permasalahan organisasi. Beberapa ahli organisasi dan konsultan menyebutnya
sebagai organisasi yang sakit. Keengganan pemimpin untuk mengakui dan
mengungkap permasalahan internal organisasi bisa menjadi efek bola salju.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa semua organisasi mempunyai permasalahan
internal. Dan proses penyelesaiaan secara benar bukan satu-satunya indikator
berhasil tidaknya organisasi dalam mencapai visi dan tujuannya. Yang lebih
utama adalah hasil atau output. Indikator tersebut merupakan indikator yang
paling valid dari indikator-indikator lain untuk mengukur tercapainya visi dan
tujuan organisasi. Misalnya ketika terjadi permasalahan internal di sebuah
lembaga pendidikan. Solusi-solusi akan datang silih berganti dan tumpang-tindih
untuk mencoba menengahi dan menyelesaikannya. Namun, yang perlu diperhatikan
justru sejauh mana hasil atau output lembaga pendidikan tersebut dalam hal
kualitas. Karena bisa saja yang terjadi dengan adanya permasalahan internal
atau konflik itu, dapat menjadikan pelajaran yang berharga bagi pengelola
lembaga pendidikan dan memicu produktivitas. Hal ini sesuai dengan penjelasan
di atas bahwa siklus organisasi sejatinya tidak ada yang linier, akan tetapi
penuh dengan kondisi probabilistik.
Konflik organisasi secara umum ada dua macam. Pertama konflik eksternal, yakni bekaitan dengan hubungan organisasi dan lingkunganya. Kedua adalah konflik internal, yakni permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalam organisasi. Beberapa ahli organisasi berpendapat bahwa konflik internal meliputi konflik yang terjadi di dalam diri individu, konflik antar individu yang dipimpin, konflik antara individu yang dipimpin dan organisasi, konflik antara pemimpin dan yang dipimpin, serta konflik antara pemimpin dengan organisasi (Winardi, 2007). Porsi terbesar yang dapat memicu potensi rapuhnya organisasi adalah konflik yang melibatkan pimpinan di dalamnya. Ini adalah sesuatu yang lumrah mengingat pemimpin adalah tonggak ujung organisasi. Pemimpin yang mempunyai tanggung jawab menjaga keluwesan organisasi dalam menghadapi konflik. Pandangan ahli organisasi pada zaman dulu menganggap bahwa konflik adalah ancaman yang mengandung resiko. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, manajemen konflik menjadi wacana baru. Salah satu contoh riil berkaitan dengan konflik internal adalah konflik antar golongan yang menimpa umat muslim akhir-akhir ini. Terlepas dari semua perbedaan pendapat dan perdebatan dalam menghadapi masalah itu, seolah-olah justru visi islam yang diturunkan Allah SWT sebagai Rahmatallil’alamin terbiaskan. Sehingga alangkah baiknya jika merujuk kembali ke Al Qur’an surat Asy Syura ayat 38 yang menyebutkan bahwa permasalahan antar manusia diselesaikan dengan permusyawaratan. Meski tidak semua hal dapat diselesaikan dengan cara musyarwarah. Allah SWT juga berfirman untuk mendamaikan semua pihak yang bertikai jika terjadi konflik (Al Hujurat ayat 9). Langkah serupa juga selayaknya diterapkan di semua organisasi agar jalan tengah konflik dapat dicapai.
Konflik merupakan dampak dari kepentingan, baik kepentingan individu yang dipimpin maupun pemimpin. Disadari atau tidak, ketika bergabung dalam sebuah organisasi, setiap individu mempunyai kepentingan tertentu yang ingin dicapai pada saat bergabung dengan organisasi. Disamping bahwa ada kepentingan organisasi, yakni visi, yang harus sejalan dan selaras dengan pemikiran individu yang bergabung dengan organisasi. Kepentingan merupakan salah satu faktor dominan yang menjadi akar pemicu konflik. Misalnya dalam sebuah organisasi kampus, setiap individu yang bergabung mempunyai angan-angan tertentu yang ingin diraihnya. Dan ketika angan-angan dan harapan tersebut perlahan-lahan hilang, maka individu yang bersangkutan akan surut semangatnya di organisasi itu. Konflik juga bersinggungan dengan peran. Peran yang dijalani setiap individu (baik pemimpin maupun yang dipimpin) bisa saja bertentangan dengan keinginan pribadi yang bersangkutan.
Seperti halnya manusia hidup di dunia juga mempunyai kepentingan. Setiap muslim wajib mencari kebahagian di dunia maupun di akhirat. Seorang muslim yang hanya mengejar dunia, maka belum tentu kehidupan akhirat akan bahagia. Namun, jika mengejar akhirat sebagai tujuan akhir, maka insya Allah, kehidupan dunia akan tercukupi. Jika dianalogikan dalam kehidupan berorganisasi, kepentingan individu di dalam organisasi diumpamakan sebagai kepentingan mengejar kehidupan dunia. Sedangkan kepentingan memperoleh kehidupan akhirat yang baik, diibaratkan seperti pencapaian visi organisasi. Apabila kepentingan untuk meraih pencapaian visi organisasi diutamakan dan tetap dijunjung tinggi, maka kepentingan individu juga akan ikut terlaksana. Manusia sebagai entitas individu memang tidak bisa lepas dari atribut-atribut yang menempel di setiap individu. Manusia mempunyai cipta, rasa dan karsa dalam menjalankan berbagai aktivitas apapun. Demikian juga ketika manusia berinteraksi dalam sebuah organisasi. Kepentingan-kepentingan individu tidak bisa dipungkiri akan terbawa pada saat setiap individu berinteraksi. Emosi dan hati manusia ketika berinteraksi dalam sebuah organisasi akan selalu menghiasi. Namun perlu disadari juga bahwa hati manusia mudah berubah, sebagaimana Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Sehingga alangkah indahnya jika setiap individu bisa menata hatinya dengan memanaje qalbunya, sebagaimana Aa’Gym sering mengulas dalam setiap wejangannya. Karena pada hakekatnya interaksi manusia dalam organisasi tidak akan pernah bisa lepas dari hakekat manusia yang mempunyai emosi dan hati.
Konflik organisasi secara umum ada dua macam. Pertama konflik eksternal, yakni bekaitan dengan hubungan organisasi dan lingkunganya. Kedua adalah konflik internal, yakni permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalam organisasi. Beberapa ahli organisasi berpendapat bahwa konflik internal meliputi konflik yang terjadi di dalam diri individu, konflik antar individu yang dipimpin, konflik antara individu yang dipimpin dan organisasi, konflik antara pemimpin dan yang dipimpin, serta konflik antara pemimpin dengan organisasi (Winardi, 2007). Porsi terbesar yang dapat memicu potensi rapuhnya organisasi adalah konflik yang melibatkan pimpinan di dalamnya. Ini adalah sesuatu yang lumrah mengingat pemimpin adalah tonggak ujung organisasi. Pemimpin yang mempunyai tanggung jawab menjaga keluwesan organisasi dalam menghadapi konflik. Pandangan ahli organisasi pada zaman dulu menganggap bahwa konflik adalah ancaman yang mengandung resiko. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, manajemen konflik menjadi wacana baru. Salah satu contoh riil berkaitan dengan konflik internal adalah konflik antar golongan yang menimpa umat muslim akhir-akhir ini. Terlepas dari semua perbedaan pendapat dan perdebatan dalam menghadapi masalah itu, seolah-olah justru visi islam yang diturunkan Allah SWT sebagai Rahmatallil’alamin terbiaskan. Sehingga alangkah baiknya jika merujuk kembali ke Al Qur’an surat Asy Syura ayat 38 yang menyebutkan bahwa permasalahan antar manusia diselesaikan dengan permusyawaratan. Meski tidak semua hal dapat diselesaikan dengan cara musyarwarah. Allah SWT juga berfirman untuk mendamaikan semua pihak yang bertikai jika terjadi konflik (Al Hujurat ayat 9). Langkah serupa juga selayaknya diterapkan di semua organisasi agar jalan tengah konflik dapat dicapai.
Konflik merupakan dampak dari kepentingan, baik kepentingan individu yang dipimpin maupun pemimpin. Disadari atau tidak, ketika bergabung dalam sebuah organisasi, setiap individu mempunyai kepentingan tertentu yang ingin dicapai pada saat bergabung dengan organisasi. Disamping bahwa ada kepentingan organisasi, yakni visi, yang harus sejalan dan selaras dengan pemikiran individu yang bergabung dengan organisasi. Kepentingan merupakan salah satu faktor dominan yang menjadi akar pemicu konflik. Misalnya dalam sebuah organisasi kampus, setiap individu yang bergabung mempunyai angan-angan tertentu yang ingin diraihnya. Dan ketika angan-angan dan harapan tersebut perlahan-lahan hilang, maka individu yang bersangkutan akan surut semangatnya di organisasi itu. Konflik juga bersinggungan dengan peran. Peran yang dijalani setiap individu (baik pemimpin maupun yang dipimpin) bisa saja bertentangan dengan keinginan pribadi yang bersangkutan.
Seperti halnya manusia hidup di dunia juga mempunyai kepentingan. Setiap muslim wajib mencari kebahagian di dunia maupun di akhirat. Seorang muslim yang hanya mengejar dunia, maka belum tentu kehidupan akhirat akan bahagia. Namun, jika mengejar akhirat sebagai tujuan akhir, maka insya Allah, kehidupan dunia akan tercukupi. Jika dianalogikan dalam kehidupan berorganisasi, kepentingan individu di dalam organisasi diumpamakan sebagai kepentingan mengejar kehidupan dunia. Sedangkan kepentingan memperoleh kehidupan akhirat yang baik, diibaratkan seperti pencapaian visi organisasi. Apabila kepentingan untuk meraih pencapaian visi organisasi diutamakan dan tetap dijunjung tinggi, maka kepentingan individu juga akan ikut terlaksana. Manusia sebagai entitas individu memang tidak bisa lepas dari atribut-atribut yang menempel di setiap individu. Manusia mempunyai cipta, rasa dan karsa dalam menjalankan berbagai aktivitas apapun. Demikian juga ketika manusia berinteraksi dalam sebuah organisasi. Kepentingan-kepentingan individu tidak bisa dipungkiri akan terbawa pada saat setiap individu berinteraksi. Emosi dan hati manusia ketika berinteraksi dalam sebuah organisasi akan selalu menghiasi. Namun perlu disadari juga bahwa hati manusia mudah berubah, sebagaimana Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Sehingga alangkah indahnya jika setiap individu bisa menata hatinya dengan memanaje qalbunya, sebagaimana Aa’Gym sering mengulas dalam setiap wejangannya. Karena pada hakekatnya interaksi manusia dalam organisasi tidak akan pernah bisa lepas dari hakekat manusia yang mempunyai emosi dan hati.
Senin, 10 Oktober 2011
TUJUAN DARI ORGANISASI
PENDAHULUAN
Organisasi, mungkin kata yang
tidak asing lagi di kehidupan kita. Organisasi ada sejak dahulu, tidak hanya
dilingkuhan kepemerintahan, organisasi juga berlaku dikehidupan masyarakat.
Organisasi sangat merakyat adanya. Seperti di sekolah, lingkungan masyarakat,
kepemerintahan, bahkan organisasi dunia.
Dalam makalah ini kita akan
membahas tentang penntingnya organisasi, beserta masalah-masalah yang timbul
dalam organisasi. Beberapa maanfaat organisasi didalam kehidupan kita adalah :
·
Organisasi mampu membuat kita
menjadi lebih terampil.
·
Apabila organisasi bergerak
dibidang kesehatan, mampu menerapkan pola hidup sehat kepada setiap anggotanya.
·
Banyak ilmu yang kita dapat
dari sbuah organisasi, karena terjalin komunikasi antar satu sama lain, sehingga
melahirkan informasi baru.
Tujuan
dari organisasi itu sendiri adalah mampu melatih setiap orang (anggota) agar
mampu bersosialisasi di depan umum, mengungkapkan pendapat, dan mampu menjadi
pemimpin yang bertanggung jawab.
LANDASAN
TEORI
Terdapat
beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu
sama lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya digunakan
sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara
rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali,
dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain
sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan
organisasi.
Menurut para ahli terdapat beberapa
pengertian organisasi sebagai berikut.
- Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola
hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan
mengejar tujuan bersama.
- James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap
perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
- Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi
adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua
orang atau lebih.
- Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi
adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar,
dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas
dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau
sekelompok tujuan.
Sebuah
organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti
penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan
perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah
organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena
memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat
sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran. Orang-orang
yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus
menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan
tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam
keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang
dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.
Partisipasi
Dalam
berorganisasi setiap individu dapat berinteraksi dengan semua struktur yang terkait baik itu secara langsung
maupun secara tidak langsung kepada organisasi yang mereka pilih.. Agar dapat
berinteraksi secara efektif setiap individu bisa berpartisipasi pada organisasi
yang bersangkutan. Dengan berpartisipasi setiap individu dapat lebih mengetahui
hal-hal apa saja yang harus dilakukan.
Pada
dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan
mental atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam
situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok
dalam usaha mencapai tujuan.
Keterlibatan
aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata.
Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan emosi atau
perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan
sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung
jawab terhadap usaha yang bersangkutan.
Unsur-unsur
- Unsur pertama, bahwa partisipasi atau keikutsertaan
sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau
hanya keterlibatan secara jasmaniah.
- Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan
kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat rasa
senang, kesukarelaan untuk membantu
kelompok.
- Unsur ketiga adalah unsur tanggung jawab. Unsur tersebut merupakan segi yang menonjol dari rasa
menjadi anggota. Hal ini diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of
belongingness”.
Jenis-jenis
Keith Davis juga mengemukakan
jenis-jenis partisipasi, yaitu sebagai berikut[1]:
- Pikiran (psychological participation)
- Tenaga (physical partisipation)
- Pikiran dan tenaga
- Keahlian
- Barang
- Uang
Syarat-syarat
Agar
suatu partisipasi dalam organisasi dapat berjalan dengan efektif, membutuhkan
persyaratan-persyaratan yang mutlak yaitu .
- Waktu. Untuk dapat berpatisipasi diperlukan waktu.
Waktu yang dimaksudkan disini adalah untuk memahamai pesan yang
disampaikan oleh pemimpin. Pesan tersebut mengandung
informasi mengenai apa dan bagaimana serta mengapa diperlukan peran serta[1].
- Bilamana dalam kegiatan partisipasi ini diperlukan dana perangsang, hendaknya dibatasi
seperlunya agar tidak menimbulkan kesan “memanjakan”, yang akan
menimbulkan efek negatif.[1]
- Subyek partisipasi hendaknya relevan atau berkaitan
dengan organisasi dimana individu yang bersangkutan itu tergabung atau
sesuatau yang menjadi perhatiannnya.[1]
- Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk
berpartisipasi, dalam arti kata yang bersangkutan memiliki luas lingkup
pemikiran dan pengalaman yang sama dengan komunikator, dan kalupun belum
ada, maka unsur-unsur itu ditumbuhkan oleh komunikator.[1]
- Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk melakukan
komunikasi timbal balik, misalnya menggunakan bahasa yang sama atau yang
sama-sama dipahami, sehingga tercipta pertukaran pikiran yang efektif atau
berhasil.[1]
- Para pihak yang bersangkutan bebas di dlam melaksanakan
peran serta tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.[1]
- Bila partisipasi diadakan untuk menentukan suatu
kegiatan hendaknya didasarkan kepada kebebasan dalam kelompok, artinya
tidak dilakukan pemaksaan atau penekanan yang dapat menimbulkan ketegangan
atau gangguan dalam pikiran atau jiwa pihak-pihak yang bersangkutan. Hal
ini didasarkan kepada prisnsip bahwa partisipasi adalah bersifat persuasive.
Partisipasi
dalam organisasi menekankan pada pembagian wewenang atau tugas-tugas dalam melaksanakan
kegiatannya dengan maksud meningkatkan efektif tugas yang diberikan secara
terstruktur dan lebih jelas.
Bentuk-bentuk organisasi
- Organisasi politik : partai-partai yang telah muncul
saat ini
- Organisasi sosial : seperti posyandu dan semacamnya
- Organisasi mahasiswa : organisasi setiap jurusan
- Organisasi olahraga : seperti persatuan sepak bola
dan olah raga lainnya
- Organisasi sekolah : OSIS yang setiap tahun diadakan
pemilihannya
- Organisasi negara : seperti FAO, UNESCO, dan
lain-lain.
PEMBAHASAN
Kita telah
membahas beberapa hal penting tentang organisasi seperti pembahasan diatas.
Dalam pembahasan kita kali ini, kita akan membicarakan tentang suatu organisasi
yang bersifat umum tetapi organisasi ini tidak bersifat meluas. Organisasi yang
kita maksud ini adalah posyandu. Pos Pelayanan Keluarga Berencana – Kesehatan
Terpadu (Posyandu) adalah kegiatan kesehatan dasar yang
diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu
merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan
penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan :
”Pelayanan kesehatan terpadu (yandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan
kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas.
Tempat pelaksanaan pelayanan program terpadu di balai dusun, balai kelurahan,
RW, dan sebagainya disebut dengan Pos pelayanan terpadu (Posyandu)”. Konsep Posyandu
berkaitan erat dengan keterpaduan. Keterpaduan yang dimaksud meliputi
keterpaduan dalam aspek sasaran, aspek lokasi kegiatan, aspek petugas
penyelenggara, aspek dana dan lain sebagainya. (Departemen kesehatan, 1987:10).
Posyandu
dimulai terutama untuk melayani balita (imunisasi,
timbang berat badan) dan orang lanjut usia (Posyandu Lansia), dan lahir melalui
suatu Surat Keputusan Bersama antara Menteri Dalam Negeri RI (Mendagri),
Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) dan Ketua Tim Penggerak (TP) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga
(PKK) dan dicanangkan pada sekitar tahun 1986. Legitimasi keberadaan Posyandu
ini diperkuat kembali melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi
Daerah tertanggal 13 Juni 2001 yang antara lain berisikan “Pedoman Umum
Revitalisasi Posyandu” yang antara lain meminta diaktifkannya kembali Kelompok
Kerja Operasional (POKJANAL) Posyandu di semua tingkatan administrasi
pemerintahan. Penerbitan Surat Edaran ini dilatarbelakangi oleh perubahan
lingkungan strategis yang terjadi demikian cepat berbarengan dengan krisis
moneter yang berkepanjangan.
Masalah
yang sering kita hadapi dalam organisasi ini adalah bagaimana pemerintah dapat
menjangkau tempat-tempat terpencil disetiap daerah agar kesehatan masyarakat
sedikit terbantu dengan adanya organisasi ini. Kadang kala kita sering
menemukan, posyandu yang sedang beroperasi tetapi kebutuhan yang disediakan tidak
mencukupi untuk masyarakat. Disini kita harus lebih memperhatikan masalah ini.
Mengingat banyak penyakit yang terjangkit pada balita, akibat kurangnya gizi
dari asupan makanan yang diberi oleh si ibu.
Dalam
posyandu ini telah menyediakan beberapa
imunisasi untuk penyakit yang dialami si bayi, dengan beberapa dokter
yang dikirim untuk membantu memperjelas kepada si ibu betapa rentannya usia
bayi saat ini dan masih mempunyai resiko dalam berbagai penyakit. Baiknya
pemerintah mendata disetiap daerah, dan mengadakan posyandu secara resmi dan
rutin tiap minggunya.
Tidak hanya itu, pemerintah juga harus memberi masukkan
kepada si ibu, tentang pentingnya memberi asupan gizi kepada si bayi. Karena
sebagian besar juga cacat pada bayi dikarenakan sang ibu terlalu menganggap
sepele terhadap kesehatan si bayi. Sang ibu selalu menjadikan alas an keuangan menjadi factor tidak tercukupinya
kebutuhan si bayi. Padahal pemerintah mengadakan program ini untuk
meminimalisir terjangkitnya penyakit yang marak terjadi di dunia seperti gizi
buruk dan lain-lain.
Dari masyarakat sendiri harusnya menyadari betapa
pentingnya kesehatan itu. Sehingga I kematian yang terjadi dapat dicegah
setidaknya dapat mengurang resiko tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)
